SEJAK kepindahan tetangga baru, aku sering berkhayal
yang tidak-tidak. Sudah lama aku menahan keinginan dan fantasiku
berhubungan dengan pria. Itu karena aku memang berkomitmen untuk tidak
melakukannya lagi demi keluargaku. Namaku Gustav, aku menikah sejak usia
30 dan kini pernikahanku menginjak tahun ke lima. Orang bilang lima
tahun pertama adalah tahun penuh godaan. Aku biasanya bisa mengabaikan
setiap godaan, tapi godaan itu kini terpampang nyata dan berada di rumah
sebelah.
Namanya Alfi. Usianya sekitar 16 atau 17 tahun dan masih SMA.
Keluarganya pindah ke rumah sebelah dua bulan lalu. Hampir semua rumah
di sini dibangun di tanah yang luas. Biasanya halaman belakang rumah
yang ada di sini dibiarkan terbuka dan menjadi kebun. Aku sering
melihatnya saat minggu sore sedang bermain dengan anjingnya di halaman
belakang. Karena pemisah halaman di perumahan kami cukup rendah, aku
bisa bebas memerhatikannya hanya memakai kaus singlet yang sedikit
menutupi kulitnya yang mulus. Alfi adalah remaja tampan, ramping namun
atletis.
Aku sering berpura-pura melakukan sesuatu di halaman belakang seperti
menyiram kebun dan merapikan taman hari minggu sore. Padahal tujuan
utamaku adalah memerhatikan Alfi yang sedang bermain-main di halaman
belakang rumahnya. Ketika dia membungkuk, aku melihat bongkahan
pantatnya dan langsung berpikiran untuk menariknya dan memerkosanya
tanpa ampun untuk memuaskan kontolku. Aku meneguk ludah jika
membayangkan itu. Terkadang Alfi suka menyapaku dan melambaikan tangan
sambil tersenyum, dan membuatku semakin mengkhayal yang tidak-tidak.
Minggu sore itu aku kesal karena rutinitasku mengamati Alfi terganggu
oleh telepon dari kawan lama. Padahal istri dan anakku sedang tak ada
di rumah. Aku sudah membayangkan bisa asik mengamati Alfi sambil
meremas-remas kontol dan menuntaskannya hingga ngecrot mungkin. Saat
kulihat jam, ternyata sudah pukul empat sore. Biasanya Alfi sudah
selesai bermain dengan anjingnya dan pergi entah ke mana. Aku melongok
ke halaman belakang dan.. “Om Gustav! Om!” panggil seseorang.
Ternyata Alfi sudah melongok di pagar. “Om. Sori.. tadi bola aku kelempar ke halaman om..” katanya cemas.
“Oh? masa? di sebelah mana?” kataku.
“Kayaknya ke sana deh, om.. Alfi bantu cari ya?” katanya.
Tanpa diminta, Alfi mengambil sebuah kursi dan naik melompati pagar masuk ke halamanku. Aku menjadi salah tingkah melihatnya.
“Kayaknya ke situ, Om,” kata Alfi sambil berjalan menuju sebuah gazebo di halaman rumahku.
Gazebo itu kubuat sebagai tempat bersantai di luar rumah. Ada kursi
panjang dan bantalan empuk jika ingin tiduran menikmati angin tanpa
harus kepanasan. Ya, di sisi luarnya yang tidak berbatasan dengan
dinding, aku sengaja menempelkan kawat yang ditumbuhi oleh tumbuhan
merambat hingga menghalangi sinar matahari masuk.
“Kamu yakin bolanya ke situ?” tanyaku tak yakin.
Alfi mengangguk. Dia lalu masuk ke dalam gazebo dan membungkuk
mencari-cari sesuatu di kolong kursi. Saat dia membungkuk, aku meneguk
ludah melihat pantatnya yang sedikit terbuka.
“Ada om!” sahutnya sambil meraih benda yang dicarinya.
Wajah Alfi terlihat senang sambil membawa bolanya. Saat dia hendak
melewatiku, entah mengapa aku tak memberikannya jalan. Aku diam menatap
wajahnya.
“Om?” tanyanya heran.
“Oh.. iya. Yaudah kalau udah ketemu,” kataku sambil memberi jalan pada Alfi.
Saat Alfi lewat, pahanya tanpa sengaja menyenggol selangkanganku yang kontol di dalamnya sudah mengeras.
Alfi tertegun dan menatapku. “Om?” tanyanya.
Aku menjadi salah tingkah dan berusaha menjauh darinya. Namun Alfi malah mendekatiku.
“Keras…” kata Alfi.
“A.. apanya?” tanyaku gugup.
“Om Gustav jangan marah ya. Alfi sebenernya diem-diem sering perhatiin Om Gustav..”
“Apa?” tanyaku sambil meneguk ludah.
Alfi menjatuhkan bolanya. Dia lalu mendekatiku dan memegang kedua lenganku.
“Fi?” tanyaku.
“Alfi cuma bisa kagumin badan Om Gustav yang kekar ini… ngebayangin gimana rasanya didekap sama lengan berotot om..” gumamnya.
Aku semakin salah tingkah. Kurasakan kontolku semakin menegang.
“Kalau Alfi lihat Om gak pake baju, Alfi suka bayangin… meluk dada om..
elus sixpack om.. dan bayangin apa Om punya kontol gede dan keras…” kata
Alfi makin berani.
Alfi lalu mendongak dan berusaha mencium bibirku. Awalanya aku
sedikit menolak, tapi akhirnya kulumat juga bibir Alfi yang menggiurkan
itu. Kuselipkan lidahku ke dalam mulutnya dan menjelajahinya dan
bergumul dengan lidah remaja itu. Alfi bergumam seperti kehabisan nafas.
Lengannya mencengkeram lenganku. Lalu dia menarik kausku dan mulai
menciumi leher dan dadaku. Aku menggeram ketika lidah Alfi bergeriliya
semakin turun dan menikmati lekukan otot pada perutku.
Tangannya lalu dengan cekatan membuka celanaku dan meloloskannya
hingga betisku. Tanpa ada keraguan, Alfi mulai meraih batang kontolku
dan mengocoknya.
“Hmm.. gede, Om..” pujinya.
Tak menunggu lama, Alfi mulai memasukkan kepala kontolku ke dalam
mulutnya. Dia menatap mataku dan aku sangat bergairah melihat wajah
tampannya begitu menikmati kontolku yang sebagian batangnya sudah berada
di dalam mulutnya.
“Um.. mm..” gumam Alfi. Kepalanya meliuk-liuk sambil terus berusaha meraih kontolku lebih dalam.
“Sssh…” aku mendesis ketika lidah Alfi memijat kepala kontolku hingga
terasa enak. Bibirnya mengatup rapat memastikan bahwa kontolku tetap
terjepit sempurna, lembab oleh salivanya.
“Mmmm..” Alfi memajukan wajahnya hingga seluruh batang kontolku kini berada di dalam mulutnya.
“Akkh..” erangku. Alfi lalu mulai menyedot kontolku hingga aku
menggelinjang. Belum pernah aku dioral oleh remaja sebelumnya dan cukup
terkejut dengan kelihaian Alfi memperlakukan kontolku.
Aku menarik rambut Alfi hingga kepalanya tertarik ke belakang.
Kulihat wajahnya penuh kepuasan menatapku sayu. Mulutnya basah oleh liur
dan nafasnya terengah-engah. Wajahnya yang memerah sedikit basah oleh
keringat.
Aku mengusap bibirnya dengan telujukku. Kusapukan jariku pada wajah
dan bibirnya. Alfi malah mengulum jari telunjukku dan membiarkanya
memijat lidah dan mengusap giginya. Alfi bergumam sambil terus menyedot
telunjukku.
“Akh..” Alfi meringis saat kutarik lebih keras rambutnya ke belakang.
Aku menunduk dan mendekati wajahnya. “Kamu suka kontol om? hah? suka?” kataku sambil mendekatkan bibirku pade telinganya.
“Suka om..” jawab Alfi.
Aku lalu mecium wajah Alfi dan memaksanya membuka mulutnya dengan
jariku. Kudorong rahangnya ke bawah sehingga mulut Alfi kembali terbuka.
Lalu aku meludah hingga liurku masuk langsung tepat ke dalam mulutnya.
Kukatupkan mulut Alfi lagi dan memaksanya menelan ludahku. Kubisikkan
lagi kata-kata di telinga Alfi “Om mau ngentot pantat kamu.. Pas om
keluar, kamu telen pejuh om, ngerti?”
Alfi mengangguk. Aku lalu berdiri kembali dan mendorong kepalanya ke
selangkanganku. Alfi langsung melahap kontolku kembali. Selama beberapa
saat kubiarkan Alfi menikmati kontolku dan tangannya meraba-raba
tubuhku. Aku lalu mengangkat tubuh Alfi dan membuka pakaiannya.
Kurebahkan dia di kursi taman di atas tumpukan bantal.
Aku membuka kaki Alfi dan dia mulai mendesah sambil mengocok
kontolnya. Aku membungkuk. Awalnya kucium mulut Alfi, lalu mulai
mencumbu lehernya. Alfi meringis sambil menggeliat ketika aku dengan
bernafsu menggigit putingnya yang membuat kulitnya tergesek kumis dan
janggutku yang baru saja tumbuh.
“Ungh…” keluh Alfi saat aku bergantian mencumbu putingnya.
Kujulurkan lidahku dan kuputar-putar puting Alfi yang kecoklatan itu hingga remaja itu semakin menggelinjang.
“Enak om.. terus..” desahnya.
Aku lalu menciumi perutnya dan mulai mengulum kontol Alfi yang ukurannya lebih kecil dariku.
“Ummm.. mmmh… hhh…” desah Alfi terus menerus saat aku melumat kontolnya dan menarik-narik kantung zakarnya dengan mulutku.
Setelah puas membuatnya menggeliat dengan servis oral, aku mengangkat
paha Alfi dan membukanya lebar-lebar. Kulihat bongkahan pantatnya yang
mulus itu tak lagi bisa menyembunyikan sebuah lubang berwarna kemerahan
yang terlihat berdenyut-denyut. Alfi melihatku ngeri tak tahu apa yang
akan aku buat dengan lubang anusnya itu.
Segera kuludahi lubang anus itu dan mulai kujilati. Tubuh Alfi
menegang. Pahanya melakukan perlawanan hingga aku harus mencengkeramnya
kuat-kuat.
“Ahh.. Om Gustaaav…” erang Alfi keenakan. Aku tahu dia juga menikmati
gesekan rambut tajam pada kumis dan daguku saat kulahap anusnya dengan
bernafsu.
Tubuh Alfi bergerak liar namun tak berdaya di bawah cengkeramanku.
Kurasakan pahanya sangat menegang ketika aku asyik menekan-nekan
permukaan lubang anusnya dengan ujung lidahku.
“Engg…” rintih Alfi. Setiap terdengar rintihannya, aku semakin
terangsang dan kontolku semakin keras. Tak sabar rasanya menusukkan
batang ini ke dalam anusnya yang ketat.
Kemudian aku memasukkan jari telunjuk pada lubang anus Alfi. Alfi
mengerang panjang ketika aku memijat dinding anusnya yang berdekatan
dengan prostatnya.
“Om Gustav… Ummh…” desahnya keenakan. Aku memasukkan jariku satu lagi
dan mencoba membuatnya siap untuk kumasukkan kontolku yang sudah tak
sabar ingin menghajarnya.
Kemudian aku bangkit. Kubasahi kembali kontolku dengan liur dan mulai
meletakkan kepalanya tepat pada mulut anusnya. Kupegang kaki Alfi yang
meronta sedikit ketika aku mulai mendorong kontolku masuk anusnya.
“Enggg… Om.. Sakit…” erang Alfi. Wajahnya meringis ketika sedikit
demi sedikit dinding anusnya membuka lebar didesak oleh kontolku yang
perlahan masuk.
Alfi mengambil bantal. Dipeluknya bantal itu di dada dan
menggigitnya. Wajahnya menatapku memohon agar aku melakukannya lebih
perlahan.
“Pelan-pelan om.. pelan-pelan..” pintanya.
Aku menuruti keinginan Alfi. Dan ketika akhirnya seluruh batang
kontolku masuk ke dalam anusnya, Alfi mengerang panjang. Punggungnya
melengkung dan mendekap bantal kuat-kuat.
“Kamu enggak apa-apa?” tanyaku sambil menciumi kakiknya.
Alfi menggeleng. “Tahan dulu ya om… Alfi belum siap. Kontol om gede banget sih.. uh..” katanya entah mengeluh entah memuji.
Alfi mengatur nafasnya beberapa saat. “Udah siap?” tanyaku.
Alfi mengangguk walau sedikit ragu. Aku lalu menarik kontolku keluar dan menghujamkannya lagi.
“Ouuh…” giliran aku yang mendesah kenikmatan. Lubang anus Alfi terasa
ketat menjepit kontolku ketika kontolku melesak kembali ke dalam.
Alfi memekik, tubuhnya kembali menegang. Aku tak lagi peduli pada
Alfi. Kutarik dan kudorong berulang-ulang kontolku dengan irama pada
pinggulku. Menikmati anus sempit remaja pria ini. Seperti yang sering
kukhayalkan.
“Ouh.. Alfi sayang.. Nikmat banget..” racauku.
“Engh.. engh.. pelan-pelan Om.. auh.. uuh..” gumam Alfi di atas kursi. Tubuhnya bergerak-gerak.
Aku lalu membungkuk dan meremas dada Alfi sambil terus menghajar anusnya dengan kontolku.
“Kamu suka kontol om, sayang? hah?” tanyaku pada Alfi.
“Su.. suka om.. uhh.. nnggh..” keluh Alfi kewalahan.
“Kalau begitu, tahan ya sayang.. om mau genjot kamu lebih keras.. Uuh…” kataku lagi sambil mempercepat gerakanku.
“AAAKHH..” Alfi mengerang lebih kencang ketika aku semakin ganas menggenjot kontolku masuk ke dalam anusnya.
Lama kelamaan erangan Alfi berkurang. Dia malah membuka kakinya
semakin lebar. Tatapannya kini berbeda. Awalnya dia seperti berharap
agar aku berhenti, namun kini dia meminta lebih.
“Umm.. mmh.. terus Om..” pintanya sambil berusaha bangkit dari kursi.
Aku kemudian menghentikan gerakanku. Kuraih tubuh Alfi dan
membaliknya hingga dia memunggungiku. Aku langsung menusukkan kembali
kontolku sambil meremas pantatnya. Aku menggeram, pantat Alfi memang
terasa nikmat sekali. Tanpa ampun terus kugenjot hingga remaja itu
merintih keras dan panjang. Kutarik rambut Alfi dan kubuat dia menoleh
ke arahku.
“Enak?” tanyaku. Alfi mengangguk sambil terus mendesah.
“AAAAAAA..” teriak Alfi saat aku menekan punggungnya dengan tanganku
dan tanpa belas kasihan aku menghajar terus anusnya berkali-kali semakin
ganas dan cepat. Alfi memekik kesakitan sekaligus keenakan saat
tubuhnya terkunci oleh tanganku. Kupejamkan mata sambil terus menggeram
menikmati kontolku yang keluar masuk anus sempit Alfi.
“Om mau keluar..” geramku.
“Keluarin di mulut Alfi, Om! Alfi pengen telen!” kata Alfi memohon.
Aku lalu menarik batang kontolku dan melepas cengkeraman tanganku
pada tubuh Alfi. Alfi membalik badan dan beringsut dan berlutut di
depanku. Saat Alfi membuka mulutnya, ku masukkan kontolku ke dalamnya
dan kupegangi kepalanya dengan tanganku.
“Ouh… hh..” erangku sambil terus mendekap kepala Alfi. Alfi menggumam
dan… “OOOHH..!!” aku mengerang saat kutembakkan cairan sperma
berkali-kali di dalam mulut Alfi yang sepertinya langsung mengalir ke
tenggorokannya. Alfi mencengkeram pahaku dan meronta saat kupaksa dia
menerima pejuhku seperti yang kumau.
Tubuhku gemetar. Kepala Alfi masih kudekap beberapa lama. Lalu aku
melepasnya. Kulihat wajahnya memerah. Mulutnya basah oleh liur bercampur
sperma. Kontolku pun tampak mengilap dan basah oleh campuran liur dan
sperma. Alfi terengah-engah, tapi dia tersenyum padaku. Sepertinya dia
senang telah membuatku puas. Akupun baru pertama kali merasakan orgasme
paling intens seumur hidupku.
“Giliran Alfi keluar om..” katanya sambil bangkit. Didorongnya
tubuhku hingga duduk di atas kursi. Kontolku masih tegak berdiri saat
Alfi naik ke pangkuanku dan mendudukinya.
“Aaah…” pekik Alfi saat dia menurunkan pantatnya sehingga kontolku yang basah itu masuk kembali ke dalam anusnya.
Alfi mendesah. Salah satu tangannya berpegangan pada kursi.
Kuletakkan dua tanganku ke belakang kepala sambil menikmati pertunjukan
di depanku. Alfi meliuk, bergoyang dan mendesah sambil menikmati
kontolku sekali lagi di dalam anusnya. Dia melakukan itu sambil mengocok
kontolnya sendiri.
“Hufff.. nggh…” erangnya ketika dia membuat kontolku menekan titik
sensitif kenikmatan di dalam tubuhnya dan… “Aaah..” erangnya ketika
kontolnya menyemprotkan sperma dan membasahi dada dan perutnya.
“Hmmmpph…” desah Alfi sambil mendekapku setelah dia mencapai
puncaknya sendiri. Aku memeluk tubuh Alfi dan mencium bibirnya. Alfi
lalu meletakkan kepalanya di dadaku. “Makasih om.. Alfi puas banget..”
katanya.
Aku tersenyum bahagia. Membayangkan ke depannya aku akan melakukan hal seperti ini dengan Alfi berkali-kali…
-TAMAT-
bokep
BalasHapusbokep
bokep
bokep
bokep
bokep
bokep
bokep