BERTAMBAHNYA kedekatanku secara seksual berbanding
terbalik dengan makin sedikitnya waktuku bersama Haidir sebelum pria
calon satpam itu keluar dari rumahku dan tinggal di asrama. Aku
sebenarnya tak perlu berharap lebih daripada sekadar hubungan intim
dengan Haidir. Toh, mungkin dia menganggap bermesraan dengan pria hanya
sebagai selingan sebelum kembali ke kehidupan lamanya sebagai seorang
playboy penghajar memek wanita. Mana mungkin Haidir akan punya perasaan
lain? Aku terlalu terbawa perasaan. Tapi terus terang, Haidir sudah
mencuri hatiku. Belum pernah kutemui orang seperti dia. Terlebih dia
tadinya seorang straight yang akhirnya dapat aku taklukkan.
Itu sebabnya keesokan harinya aku murung. Lusa, Haidir sudah pergi.
Aku berusaha ceria namun tak bisa menyembunyikan keresahanku.
“Kamu kenapa, Don?” tanya Haidir.
“Enggak kenapa-napa, Bang..” kataku sambil mengaduk nasi yang ada di piring asal-asalan. Aku sampai tidak nafsu makan siang itu.
Haidir hanya mengangguk-angguk sambil bergumam.
“Abang nanti malam ke kamar kamu ya?” godanya.
Aku menggeleng. Haidir mungkin heran dengan tingkahku. Dia tampak
kecewa dan murung. Aku sebenarnya tak tega. Tapi aku memang sedang tidak
bersemangat.
“Doni masuk kamar dulu, bang..” kataku sambil meninggalkan Haidir di meja makan.
Aku mengurung diri di kamar seharian hingga malam. Haidir rupanya
menuruti keinginanku untuk tidak diganggu. Padahal aku berharap dirinya
nekad menerobos kamarku dan mengabaikan sikap tak peduliku seharian ini.
Aku pasti akan luluh.
Tapi godaan Haidir begitu kuat. Aku seharunya tak terbawa perasaan.
Biar saja beberapa hari ini menjadi kenangan terindah bersamanya sebelum
kami berpisah. Apapun yang terjadi kelak, aku tak boleh sakit hati. Aku
tak boleh kecewa. Jadi kuputuskan untuk membuat momen tak terlupakan
terakhir kali untuk Haidir.
Perlahan aku keluar kamar mengendap menuju kamarnya. Sudah jam
sebelas malam. Pintu kamarnya tak terkunci. Aku melihatnya tidur
telentang dengan memakai kaus singlet hijau dan celana pendek. Sebagian
wajahnya tertutup bantal sehingga hanya tampak hidung dan mulutnya yang
sedikit terbuka. Tangan Haidir diletakkan di samping kepalanya sehingga
bulu-bulu ketiaknya yang hitam rapi itu terlihat jelas dan menggoda.
Aku menghampiri ranjang Haidir. Kulihat torsonya naik turun seiring
dia bernafas. Kuberanikan diri menggulung sedikit kaus singletnya hingga
tampak perutnya yang kotak-kotak terlatih itu. Kudekatkan wajahku dan
kucium lembut tepat pada kulit sekitar pusarnya. Kurasakan tubuh Haidir
bergetar sedikit, namun tak terbangun dari tidurnya. Aku makin agresif.
Kuhirup dalam-dalam wangi cologne pria bercampur aroma alami tubuhnya
pada sekitar ketiaknya. Ini membuat nafsuku menggelegak. Aku lalu naik
ke atas tubuh Haidir dan menjepit pinggangnya dengan kedua pahaku.
Aku merunduk dan mencium bibir Haidir cukup lama sampai memastikan
pria itu bangun. Haidir gelagapan dan membuka bantal yang menutupi
wajahnya. Dia terkejut melihatku sudah berada di atas tubuhnya.
“Don.. Doni?” tanyanya.
Aku tak menjawab. Kudekatkan lagi bibirku dan kucium bibir Haidir
mesra. Haidir membalas ciumanku. Dia membiarkanku menarik lepas kaus
singlet dari tubuhnya sementara kami terus berciuman.
“Umm… mmm…” gumam kami berdua.
Tiba-tiba Haidir menghentikan ciumannya.
“Kenapa berubah pikiran, Don? Kirain udah enggak mau ketemu abang lagi..”
Aku memeluk Haidir. “Doni sebenernya sedih abang bakalan pergi. Salah
Doni kebawa perasaan padahal kita berdua cuma senang-senang aja bang…
Tadinya Doni enggak mau lagi ketemu abang, tapi Doni putusin.. mau kasih
kenangan terakhir sebelum abang pergi.”
Haidir tiba-tiba memelukku. “Maafin abang juga Don.. abang masih
bingung harus bersikap gimana. Abang juga seneng bisa deket sama Doni.
Tapi.. ada pacar abang di kampung yang…”
Aku menutup mulut Haidir tak ingin mendengar penjelasannya lebih
lanjut. Kucium lagi bibirnya dengan mesra. Haidir lalu menarik bajuku
hingga kami berdua sama-sama bertelanjang dada. Kuciumi leher Haidir
yang tampak pasrah dan mendesah menikmati cumbuanku. Kujilati dadanya
dan kumain-mainkan putingnya dengan rakus hingga Haidir mendesis sambil
menggeliat. Aku bergeser semakin ke bawah. Dengan sigap kubuka celana
Haidir dan celanaku. Batangnya yang sudah mengeras langsung kumasukkan
dalam mulutku. Haidir mengerang sambil memegangi bahuku.
Kupaksa liurku berproduksi lebih banyak untuk membasahi kontol Haidir
hingga dia mendesis keenakan. Aku lalu bangkit dan meletakkan kedua
kakiku di sisi tubuh Haidir dan mengatur posisiku berjongkok. Aku
menahan nafas ketika kuturunkan pantatku agar batang Haidir yang sudah
tegak dan keras itu bisa menerobos anusku. Walaupun aku masih belum
rileks, kucoba agar kontol itu masuk dengan mudah dan menahan rasa tak
nyaman yang timbul karenanya. Demi Haidir.
“Ouuuh…” gumam Haidir.
“Nghh….” erangku mencoba menahan rasa sedikit perih ketika kontol Haidir menggelosor menekan dinding anusku.
“Nggh.. hhh.. mmmhhh…” eranganku bertambah keras karena aku merasa pedih namun sekaligus nikmat.
Saat kontol Haidir sudah berada sepenuhnya dalam anusku, aku
membungkuk dan mencium bibir Haidir. Kuketatkan cengkeraman dinding
anusku untuk menambah sensasi nikmat pada sekeliling kontol Haidir
sambil bergumam dan menggit bibirku.
Haidir tampak takjub atas sensasi rasa yang ditimbulkan itu. Dia mengerang pelan sambil badannya sedikit menggeliat.
“Hmm.. enak bang?” Godaku
“Enak Don.. aah.. jepitan pantat kamu…” Haidir tak meneruskan pujiannya.
“Pantat Doni punya abang… Doni pengen bikin abang enak..” godaku
sambil sekali lagi mengejan dan membuat kontol Haidir terremas keras.
Haidir menggeliat kembali merasakan kontolnya diperas anusku.
Plak! Haidir menampar pantatku.
“Pantat ini punya siapa?” Tanyanya sambil menampar pantatku sekali lagi dan meremasnya.
“Pantat Doni punya abang.. ” jawabku.
“Jawab yang keras! Punya siapa, hah?” Hardik Haidir galak sambil menampar kembali pantatku.
“Punya Abang… ahkk!!” Kalimatku terhenti saat Haidir memompa
pantatnya naik turun hingga membuat kontolnya menyodok anusku naik turun
berkali-kali dengan cepat dan ganas.
Haidir menggeram sambil menahan kedua pahaku yang terbuka lebar dalam
posisi berjongkok. Aku mengerang panjang sambil memejamkan mataku.
“Nngggg… nggggh…..” tubuhku bergetar hebat. Kontol Haidir seperti
piston yang bergerak sangat cepat naik turun keluar masuk anusku.
“Oooouuuu…. abaaaaaaaaaaanggg……” rengekku keenakan dengan suara yang terdengar bergetar.
“Haaaah…” Haidir menghentikan gerakannya. Pria ini benar-benar
seperti pejantan dengan mesin seks yang bisa dipacu sangat tinggi.
Haidir lalu bangkit dan merangkul tubuhku. Dengan batang yang masih
menancap di anus, Haidir tiba-tiba menggigit dadaku dan menjilati rakus
putingku.
“Aaaaaarggh…” aku memekik tak berdaya dengan serbuan bertubi-tubi
Haidir. Tubuhku sudah lemas melayani nafsu birahi calon satpam kekar
ini. Tapi aku tak kuasa melawan dalam pelukannya.
“Ngg…abang… abaaang….” rengekku tak berdaya merasakan cumbuan nikmat
di dadaku. Ini pastilah yang sering dilakukannya pada payudara
pacar-pacarnya saat menyetubuhi mereka.
Haidir lalu beringsut ke pinggir ranjang. Dengan tenaganya yang kuat,
dia menggendong tubuhku masih dengan kontol yang menancap di dalam
anusku. Haidir membimbing tubuhku ke dinding. Tubuh kami telah bersimbah
peluh. Aku mengaitkan kedua kakiku pada siku Haidir saat punggungku
menempel pada dinding. Kurangkul leher Haidir ketika dia menjilati
leherku dengan rakus dan mengulum daun telingaku nikmat.
Sodokan kontol Haidir masih berlanjut. Tenaganya seperti tak ada
habis dan puasnya. Lubang anusku sudah terasa memar namun enak dan panas
akibat sodokannya yang bertubi-tubi. “Oh yeah.. terusin bang… nggh…”
Gila! Kalau perempuan yang digauli Haidir seperti ini pastilah mereka
juga akan menjerit-jerit keenakan melayani nafsu pria ini. Ketika
Haidir menyemburkan spermanya pada mereka, pastilah mereka bakal
langsung hamil oleh benihnya.
Aku tak tahan lagi. Tubuhku sudah lemas. Kenikmatan sodokan Haidir
sudah sampai di ubun-ubun. Aku tak kuasa mengontrol batangku yang tanpa
disentuh akhirnya menyemburkan isinya. Aku merengek seperti mau menangis
saat beberapa kali kontolku menyemburkan sperma yang membasahi perut
Haidir. Haidir menyeringai puas. Dipercepat gerakannya hingga tubuh
lemasku terlonjak di dinding. Haidir lalu menggeram, dijepitnya tubuhku
hingga tak kuasa bergerak dan kurasakan kontolnya menyemburkan cairan
hangat di dalam tubuhku. Aku lemas dan pasrah menerima pancaran benih
Haidir yang seolah sedang membuahiku.
Haidir gemetar sambil mengatur nafas. Sisa tenaganya dia gunakan
untuk membopongku ke atas ranjang. Kami merebahkan tubuh yang bersimbah
peluh. Mengistirahatkan birahi kami yang telah mencapai puncak. Aku tak
sempat lagi membersihkan diri. Akhirnya aku terlelap dalam dekapan
Haidir.
***
Keesokan harinya aku terbangun. Aku tak sadar kapan aku berpakaian.
Kulihat sekeliling kamar. Tak ada siapa-siapa di sana. Haidir tak
terlihat. Begitu pula tas dan pakaiannya. Haidir sudah pergi…
Follow IG saya ya: @bangremy kalau mau blog ini tetap aktif dan update
RUPANYA Haidir benar-benar menghilang dari kehidupanku. Papa sempat
kesal karena dia pergi tanpa pamit seolah-olah tidak punya sopan santun
setelah diberi kesempatan menumpang selama beberapa hari. Aku memang
bertahan tak menghubungi nomornya, tapi sepertinya Papa sempat berniat
mengontaknya namun rupanya nomor Haidir sudah tak aktif lagi.
Aku sudah kembali kuliah. Sebulan lamanya aku tak bertemu Haidir.
suatu hari ponselku menerima sms dari nomor tak dikenal. “Halo Don.. apa
kabar?”
Perasaanku berkata bahwa pengirim pesan ini adalah Haidir. Tapi aku mencoba memancingnya. “Siapa ini?” balasku.
“Ini abang, Don.. Haidir..” jawabnya beberapa saat kemudian.
Aku lalu menyimpan nomornya dan mengeceknya lewat whatsapp. Aku
menunggu beberapa saat ketika akhirnya kontak Haidir muncul di layar
whatsapp. Memang benar nomor ini miliknya. Fotonya gagah memakai seragam
satpam. Sepertinya tubuhnya makin jadi. Tapi melihat fotonya yang
memamerkan otot tubuh kekarnya berbalut seragam satpam membuatnya tampak
seperti pria-pria yang mencari mangsa di aplikasi gay. Aku cemburu.
Apakah Haidir sudah menyadari nikmatnya hubungan intim dengan pria?
bahwa tipe sepertinya banyak diburu gay yang rela menyerahkan anusnya
demi kepuasannya? Sudahkah dia mendapat “mangsa”? Memikirkan hal-hal
seperti itu membuat pikiranku kesal. Aku harus melupakannya.
“Enggak nyangka abang kayak penjahat kelamin. Udah puas langsung ngilang.” balasku.
Cukup lama tak ada balasan dari Haidir. Awalnya aku puas sudah
membalasnya dengan kata-kata itu. Tapi lama kelamaan aku merasa tidak
enak dan gelisah melihat layar ponselku. Jangan-jangan Haidir benar
tersinggung dan tak mau menghubungiku lagi. Bagaimanapun aku masih
merindukan genjotan kontolnya.
Aku terkesiap saat Haidir meneleponku. Kubiarkan sampai beberapa lama sebelum kuangkat.
“Ya?” sapaku singkat. Aku berpura-pura malas padahal jantungku berdebar kencang.
“Don..? Doni. Abang pengen ketemu Doni. Maaf abang sibuk training. Enggak sempat hubungi Doni..”
Alasan yang terlalu dibuat-buat. Tapi aku membiarkannya.
“Iya bang. Doni ngerti..”
“Kalau kamu akhir minggu enggak ada acara, kapan-kapan main ke mess sini. Jalan-jalan lagi kayak dulu.”
“Iya. Kalau Doni enggak sibuk…” jawabku.
“Bener ya Don? abang SMS ini alamatnya deh. Kalau sabtu minggu di sini sepi Don..” kata Haidir terdengar antusias.
Aku mengiyakan tanpa terdengar bersemangat. Namun hal itu tidak
membuat Haidir kehilangan minat. Dia tetap mengirimkan alamat messnya.
Setelah itu aku tidak pernah menghubunginya lagi selama hampir dua
minggu. Saat Minggu tiba, aku memutuskan untuk mengunjungi mess tempat
Haidir tinggal untuk memberi kejutan. Setelah aku berkeliling mencari
alamatnya, aku menemukan juga tempat tinggal Haidir. Perusahaan
pelatihan security itu ada di sebuah bangunan berlantai dua di sebuah
komplek ruko. Sebenarnya perusahaan itu masih tergabung dengan bangunan
lain, hanya saja empat buah ruko yang sejajar dibuat seragam dan
disatukan. Lapangan parkirnya dipagari dan dimodifikasi menjadi tempat
latihan. Beberapa palang besi (mungkin untuk latihan pull-up) dan
peralatan simulasi pemadam kebakaran terlihat di sana.
Bangunan itu tampak sepi tak ada aktivitas. Apa mungkin benar yang
dikatakan Haidir kalau hari Minggu kebanyakan penghuni mess ini pulang
ke rumahnya masing-masing. Sambil meletakkan helm, Aku melihat ke
sekeliling. Ada sebuah ruang kecil yang seperti pos di ujung kanan. Di
dalamnya ada seorang pria paruh baya sedang duduk menonton televisi. Aku
mendekatinya. Bapak yang memakai kaus singlet dan celana pendek itu tak
menyadari kehadiranku.
Aku lalu berdeham dan mengucap salam.
“Ehm.. pagi pak..”
Bapak itu menoleh. Dia mengangguk sambil balik bertanya.
“Pagi. Cari siapa ya dek?”
“Saya mau ketemu abang saya.. Haidir. Messnya di sebelah mana ya pak?” Tanyaku.
“Oh.. Haidir. Mess nya di sana, belok kanan. Masuk aja. Cari aja kamarnya. Ada namanya kok…” tunjuknya.
“Terima kasih pak..” kataku.
“Ya..” jawab si bapak singkat. Kemudian dia kembali asyik menonton tv.
Aku mengikuti petunjuk arah yang diberikan oleh bapak tadi. Sebuah
lorong agak gelap tepat beradda di sebelah dinding ruko. Ada sekitar 10
kamar yang saling berhadapan. Memang benar kata bapak tadi. Tiap kamar
terdapat papan bertulis nama penghuninya.
Aku tersenyum mendapati nama Haidir di salah satu pintu. Baru saja
aku hendak mengetuk pintunya, gagang pintu kamarnya membuka. Aku
buru-buru menyembunyikan diri di balik sebuah pilar ketika kudengar dua
orang berbicara.
Saat kuintip, aku melihat seorang perempuan muda cantik berambut
sebahu berbicara pelan pada Haidir. Kemudian aku melihat Haidir ikut
keluar. Dia hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Badannya terlihat
lebih kekar dan kulitnya lebih gelap. Mungkin akibat latihan fisik
selama pelatihan menjadi personel keamanan. Aku menahan diri untuk
menyapanya dan memutuskan untuk menunggu apa yang akan mereka lakukan.
“Enggak usah dianterin, bang.. nanti enggak enak diliat orang di luar..” kata gadis itu lembut.
Pikiranku mulai melayang. Apakah gadis itu pacar bang Haidir? Ataukah
perempuan yang baru dikenalnya dan sudah berani diajak mampir untuk
melepas syahwat?
Haidir mengangguk.
Aku melihat gadis itu berjalan menunduk meninggalkan Haidir
sendirian. Haidir berdiri mematung di depan pintu melepas kepergian
perempuan itu tanpa menyadari kehadiranku. Saat dia hendak berbalik
masuk, aku sengaja menampakkan diri di lorong. Haidir terkejut
melihatku.
“Don.. Doni? Kapan sampai? Kok enggak ngabarin?” tanya Haidir tampak gelagapan.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kecut dan berjalan melewatinya.
“Doni pulang dulu, bang…” kataku.
“Eh.. Don.. Don.. nanti dulu…” cegah Haidir panik. Dia berusaha
menarik lenganku. Tapi posisinya serba salah. Dia tak bisa jauh-jauh
mengejarku karena dirinya hanya mengenakan handuk. Aku menepis lenganku
dan berjalan menuju tempatku memarkir motor. Dadaku merasa sesak.
Memangnya apa yang kau harapkan Don? Haidir yang lebih dulu menyukai
wanita tentu tidak akan semudah itu melupakan kenikmatannya. Bahwa aku
menawarkan kenikmatan yang lain, pasti dianggapnya tak lebih dari
sekedar selingan memabukkan sesaat.
Aku memakai helmku dan segera meninggalkan mess tempat Haidir
tinggal. Sesampainya di rumah, ada beberapa panggilan tak terjawab dari
Haidir di ponselku. Sebuah pesan singkat juga dia kirimkan. Aku
membacanya. “Don.. Abang mau jelasin. Tapi enggak bisa lewat telepon.
Kita ketemuan ya?”
Aku mendengus. Kuabaikan pesan dari Haidir.
Malamnya, hujan deras turun. Dari dalam kamar aku bisa mendengar
suara petir keras berkali-kali di luar sana meningkahi suara kucuran air
yang tumpah dari langit.
Di antara suara hujan, aku bisa mendengar suara pintu gerbang dibuka.
Kemudian aku mendengar ketukan di kamar orangtuaku. Selanjutnya aku
mendengar papa bergumam seperti berbicara dengan seseorang.
Tak berapa lama, giliran pintu kamarku diketuk. “Mas.. Mas Don? Udah
tidur? Dipanggil bapak..” suara Bi Suti terdengar dari luar kamar.
Aku segera menyahut. “Belum Bi.. bentar..”
Setelah kubuka pintu, Bi Suti menyuruhku ke ruang tamu. Aku sempat
heran melihat Bi Suti membawa sebuah handuk di tangannya. Apa dia mau
mandi?
Ternyata di ruang tamu sudah ada papa dan mama.. juga Bang Haidir yang basah kuyup kehujanan.
“Don.. ini Haidir dia bilang abis antar saudaranya ke terminal. Terus
kehujanan. Karena enggak bawa payung dia jadi basah kuyup begini.
Paling dekat dari stasiun ya rumah kita. Kalau dia pulang ke mess nanti
dia sakit. Gapapa ya kalau dia nginap dulu di kamar kamu malam ini?”
tanya Papa.
Aku tidak langsung menjawab. Kulirik Haidir yang tertunduk memelas
menatapku. Rambut dan pakaiannya basah kuyup. Ini pasti akal-akalan dia
saja supaya bisa bertemu aku. Tapi aku menyerah dan mengikuti keinginan
papa.
“Iya pah.. enggak apa-apa.” kataku.
Bi Suti lalu menyerahkan handuk kepada Haidir.
“Nah.. karena sudah malam, saya pamit kembali tidur. Kalian semua langsung istirahat saja ya?”
“Maaf Om.. saya jadi ngerepotin…” ujar Haidir.
“Enggak apa-apa. Sudah sudah.. kalian semua istirahat dulu. Bi Suti
tolong buatin teh panas buat Haidir. Sama bawain makanan juga..”
perintah Papa.
“Bawa ke kamar Doni aja ya Bi? Si Abang nanti pakai baju Doni aja..” kataku.
“Baik Mas Don..” kata Bi Suti sambil kembali ke dapur.
Papa dan Mama kembali ke kamar. Aku berpamitan pada mereka dan masuk
ke kamarku bersama Haidir. Sampai detik itu aku malas melihat wajahnya
dan menyapanya.
Ketika aku menutup pintu, Haidir tiba-tiba memelukku.
“Don.. maafin abang.. abang kangen..”
“Ih.. apaan sih, bang? basah tau..” sahutku gusar sambil melepaskan diri dari pelukannya yang masih memakai kaus basah.
Haidir terpaksa melepaskan pelukannya melihat kemarahanku. Apalagi Bi Suti mengetuk kamarku tak lama kemudian.
“Mas.. ini teh manis panasnya. Ada roti juga kalau si abang lapar..”
kata Bi Suti sambil menyerahkan nampan berisi gelas dan piring penuh
roti padaku saat aku membuka pintu.
“Iya Bi, makasih ya..” kataku.
Setelah pintu kembali ditutup dan kuletakkan nampan itu di meja, aku berkata pada Haidir.
“Mandi dulu bang.. nanti Doni siapin baju sama celananya..”
Haidir mengangguk. Dia mencoba menggodaku “Temenin yuk Don?”
Aku memberikan pandangan mata sebal padanya tanpa tersenyum
sedikitpun. Haidir menyerah dan berhenti menggodaku dan segera masuk ke
kamar mandi.
Saat Haidir mandi, aku kembali ke ranjang dan meringkuk sambil
berselimut. Kupandangi pintu kamar mandi selagi Haidir membasuh tubuhnya
di dalam. Ah.. rasanya ingin masuk saja ke dalam dan ikut mandi
bersamanya. Tapi rasa ego dan kesal lebih menguasai perasaanku sehingga
aku menjaga sikap.
Ketika pintu terbuka, aku sekilas melihat Haidir keluar hanya memakai
handuk. Buru-buru aku membalik tubuhku membelakanginya. Sial! kenapa
Jantungku malah berdebar kencang?
Aku meneguk ludah saat kurasakan Haidir melepas handuknya dan
sepertinya sedang memakai pakaian yang kusediakan di pinggir ranjang.
Kemudian kudengar dia meneguk teh manis panasnya sampai tuntas.
“Kausnya sayang Don.. buat besok aja abang pakainya..” katanya.
Apa maksudnya? Apakah Haidir hendak tidur tanpa baju atasan? Padahal
kalau untuk besok bisa saja dia pinjam bajuku yang lain. Aku tak
merespon ucapannya.
Haidir berdeham dan naik ke atas ranjang rebahan di sebelahku. Di
antara suara hujan, aku bisa mendengar nafasnya terdengar. Aku tak
berani menoleh. Dia berbaring tanpa mengenakan kaus.
“Don.. abang mau jelasin sesuatu…” katanya. Tiba-tiba kurasakan
usapan di punggungku. Haidir menyentuh punggungku dengan jarinya dan
mengusapnya dari atas ke bawah selagi dia berbicara. Awalnya aku
terkejut tapi kubiarkan dia melakukan itu.
“Kemarin itu.. sebenarnya pacar abang datang bawa undangan.. undangan
pernikahan dia. Bapaknya dia enggak setuju kalau dia terus pacaran sama
abang yang cuma calon sekuriti… makanya diam-diam dia dijodohkan dan
setuju menikah dengan lelaki pilihan bapaknya…”
Aku terhenyak.
“Sungguh.. waktu itu abang emang abis mandi. Jadinya denger berita
itu enggak sempet pakai baju. Abang enggak ngapa-ngapain sama dia Don…”
Haidir melanjutkan.
“Abang enggak tahu harus sedih apa enggak. Harusnya sih sedih ya..
tapi kenapa abang ngerasa lega juga ya? terus langsung keingetan sama
Doni.. Artinya abang bisa lebih deket sama Doni kan?”
Aku menarik nafas dan menghembuskannya dengan bersuara.
“Maafin Doni bang… Doni ikut menyesal abang putus sama pacarnya..” kataku tanpa mau menoleh padanya.
Tiba-tiba Haidir merangkulku dan memeluk pinggangku. Aku merasakan
aliran darahku mengalir lebih cepat. Aku berdesir merasakan tekanan dada
bidangnya pada punggungku. Tubuhku serasa lumer dalam pelukannya.
“Sekarang abang bebas.. sekaligus sedih.. karena giliran abang sudah
merasa lega, Doni malah ngambek sama abang..” gumamnya. Haidir berkata
dekat sekali ke telingaku. Hembusan nafasnya terasa pada tengkukku
sehingga aku luluh.
“Iya Bang.. Doni enggak ngambek lagi sama abang..” kataku.
“Doni.. mau enggak jadi pacar abang? abang kangen sama Doni..” ujar Haidir lagi sambil mendekapku lebih erat.
Mataku terasa panas. Aku tak langsung menjawab, tapi kemudian aku
membalasnya dengan anggukan. Haidir lalu membalik tubuhku dan memaksaku
menatap wajahnya. Aku melihatnya tersenyum penuh kebahagiaan menghiasi
wajah tampannya.
Kudekatkan wajahku padanya dan kucium bibirnya. Haidir membalas
ciumanku dengan lebih bersemangat sambil mendekap tubuhku lebih erat.
“Hmmpph…” aku luluh dalam dekapan otot tubuhnya dan ciumannya.
Sehingga saat Haidir meloloskan kaus yang kupakai dari kepalaku, aku
pasrah saja. Lengan Haidir menyapu putingku dan memaikannya dengan ujung
jarinya. Aku mendesah sambil meraih jemarinya ke mulutku dan
mengisapnya sehingga basah oleh ludahku. Kukembalikan telapak tangannya
pada dadaku agar dia melanjutkan permainannya.
Aku merangkul Haidir dan kembali menciumnya sementara tangannya masih
liar dan nakal memainkan puting dan dadaku. Mungkin ini hal yang biasa
dilakukannya jika bermesraan dengan wanita. Sesaat aku merasa minder
karena dadaku rata tak seperti payudara wanita. Haidir pasti sedikit
kecewa.
“Maaf ya bang.. Doni kan laki-laki.. gak ada susunya.. hehe..” ujarku.
“Ah.. abang suka kok punya Doni. Soalnya Doni keliatan keenakan kalau
abang giniin…” ujarnya sambil mengulum salah satu putingku. Aku
langsung memekik dan menggeliat saat Haidir melakukan itu.
Aku tertawa “Abang nakal…”
Haidir ikut terkekeh. Kembali kita saling bertatapan.
“Bang…”
“Ya?”
“Kalau Doni jadi pacar abang.. nanti dihajar genjotan super abang enggak?” Tanyaku.
Haidir tertawa. “Kenapa Don? Sakit ya? Abang bakal pelan-pelan deh..”
“Bukan bang.. justru.. enak. Ehehe..” sahutku tersipu.
Haidir kembali tertawa. “Oke deh.. tapi enggak malam ini ya.. abang
pengen lepas kangen ama Doni. Doni jangan ngapa-ngapain.. biar abang aja
yang…”
“Yang apa bang?” Tanyaku.
Haidir tak menjawab. Dia malah bergulir ke atas tubuhku dan mulai
menindihku. Saat dia mencium bibirku, secara reflek aku merangkul
kepalanya. Tapi Haidir menolak dan menahan kedua lenganku di kepala
ranjang.
Cumbuan Haidir bergeser ke bawah. Aku mendesis saat leherku terkena
sapuan bibirnya. Kembali secara reflek aku mendekap kepalanya. Sekali
lagi Haidir menepis tanganku. Kali ini aku menurut. Kuangkat lenganku
tinggi-tinggi sambil mencengkeram kayu pada kepala ranjangku dan mencoba
bertahan dan menikmati secara pasif apapun yang akan dilakukan Haidir
padaku.
Aku nyaris menangis dan mengeluarkan suara rengekan ketika lidah
Haidir yang lembab menekan keras area ketiakku dan menjilatnya. Tubuhku
menggeliat antara geli dan keenakan. Aku berharap suara hujan deras
masih mengalahkan rengekanku sehingga tak terdengar dari kamar Papa.
“Ng… geli bang…” ujarku. Tapi Haidir tak menghentikan aksinya
bergantian menyiksa dan melumat ketiakku yang hanya ditumbuhi bulu
halus. Dia tampak menyukai bagian itu.
Setelah puas, dia kembali melumat puting dadaku hingga tubuhku makin
liar menggelinjang. Kurasakan puting dadaku lembab dan sedikit memar
akibat nafsu Haidir.
Nafasku makin memburu. Aku tak berani melepaskan pegangan tanganku dan bertahan menjadi pasif dalam permainan kali ini.
Aku tak tahan mengeluarkan pekikan keenakan saat Haidir sengaja
melewati kontolku dan memilih untuk menjilati belahan pantatku hingga
pangkal buah zakar. Tanpa ragu tanpa jijik Haidir melakukan itu. Mungkin
dia biasa melakukannya pada mem*k wanita yang pernah ditidurinya. Aku
membayangkan saat dia menjilati bagian sensitif wanita itu sampai basah
dan kebas sehingga pasrah saat dikoyak kontol besar kokoh Haidir
setelahnya. Aku tak peduli lagi dengan kerasnya suara eranganku. Haidir
terpaksa membekap mulutku dengan tangannya untuk mengingatkanku.
Lidahnya menekan-nekan buas lubang pantatku hingga terasa lembab dan
basah. Tanpa sadar aku merenggangkan kedua pahaku sambil terus melenguh
nikmat.
Aku sebenarnya ingin mengulum kontol Haidir tapi rupanya dia ingin
memegang kendali permainan. Dia meraih laci meja di samping ranjangku.
Dia masih tahu di mana aku meletakkan tube pelumas. Aku terengah-engah
memerhatikan Haidir yang berlutut di antara kedua pahaku. Matanya
menatapku bernafsu sambil mengolesi kontolnya yang sudah tegak dengan
cairan pelumas.
Haidir mengangkat kedua kakiku ke bahunya yang sudah lemas akibat
cumbuannya. Aku pasrah saja saat Haidir mengarahkan kepala kontolnya ke
lubang anusku yang sudah kebas dan lembab itu.
Haidir menahan teriakan saat batang kontolnya melesak masuk pantatku.
Walau aku merasa sedikit tak nyaman saat kepala kontol itu mencoba
masuk, aku hanya bisa merintih pasrah. Kulengkungkan punggung sambil
menggeliat membiasakan diri dengan kontol Haidir yang menjelajahi liang
anusku.
Haidir menciumi betisku yang naik ke atas bahunya. Pinggulnya
bergoyang-goyang membuat batang kontolnya melesak masuk lebih dalam dan
semakin dalam.
“Ahk.. ssshh…” aku memekik saat kepala kontol Haidir berhasil menekan
bagian prostatku dan menimbulkan sensasi menggelenyar ke seluruh tubuh.
Kulihat kontolku menegang sendiri tanpa kusentuh.
Seperti mendapat angin dan menemukan rahasiaku, Haidir menyeringai.
Dia mengulangi gerakan yang sama hingga kepala kontolnya memukul lagi
titik pada prostatku. Bukan itu saja, dengan irama teratur dan sodokan
berkali-kali yang pendek namun cukup kuat, Haidir menyiksa bagian
sensitif dalam tubuhku itu. Aku nyaris menangis menahan sensasi nikmat
yang diakibatkan gempuran kontol Haidir. Sambil tubuhku bergoyang aku
memeluk bantal dan menggitnya untuk meredam teriakan kenikmatanku.
“Ngghh abang… ” aku tak tahan lagi. Kontolku semakin mengeras dan
memaksa cairan spermaku mengumpul hendak keluar karena sensasi orgasme
permainan itu.
Aku merengek panjang saat kontolku memuncratkan sperma dan membasahi
perutku. Haidir yang merasa telah selesai menunaikan tugas memuaskanku,
mempercepat genjotannya untuk kepuasannya sendiri. Tubuhku lemas
terombang-ambing gerakan tubuhnya. Aku pasrah Haidir menggunakan lubang
pantatku untuk mencapai klimaksnya sendiri.
Haidir mengerang. Dia membungkukkan tubuhnya. Dengan sisa tenaga aku
bangkit dan dengan rakus mengulum putingnya yang berkeringat sambil
mendesah dan menunggu dirinya mencapai puncak.
Genjotan Haidir semakin kuat, erangannya semakin keras, dan dengan
hentakkan terakhir dia menyemburkan isi zakarnya yang cair dan panas di
dalam pantatku. Aku ikut mendesah mengimbangi dahsyatnya puncak orgasme
Haidir hingga dia ambruk di atas tubuhku. Aku memeluk tubuhnya yang
terengah-engah dan mencium pipinya sebagai pujian atas kejantanannya.
Mulai malam itu, aku resmi menjadi miliknya dan Haidir menjadi milikku. Semoga kami bisa bersama selamanya.
****
Keesokan harinya, saat Haidir berpamitan pada Papa dan Mama, Papa berkata sesuatu yang mengejutkan.
“Dir.. om dengar kamu di mess itu sabtu minggu libur kan? Jangan
karena kamu ngerasa enggak enak, walau enggak tinggal di sini lagi kamu
malah enggak pernah main. Kalau di sana enggak ada kerjaan, main aja ke
rumah ini..” kata Papa.
“I.. iya Om..” jawab Haidir.
“Om sama Tante seringnya kalau weekend itu ke villa di puncak. Doni
hampir selalu enggak mau diajak. Berat sama main game online katanya.
Kasian dia.. Om takut membusuk di rumah..”
“Ih Papa.. membusuk..” protesku pada Papa.
Papa dan Haidir tertawa.
“Iya. Kan Bi Suti Sabtu pagi pulang ke rumahnya dan Balik Minggu
malem. Om enggak mau Doni macem-macem di rumah bawa anak gadis orang.
Tolong mampir awasin dia kalau boleh. Anggap aja rumah sendiri…” lanjut
Papa.
Haidir menyeringai lebar dan melirikku sambil mengedipkan mata. “Beres om…”
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar