Rabu, 24 Mei 2017

Om Sex Om (Gay Story)

Perkenalkan, namaku Dendy (20 Tahun). Aku adalah seorang gay dan tipe pria idamanku adalah pria-pria mature alias Om-om. Hehhehe. Aku menyadari adanya perbedaan dalam orientasi seksualitasku sejak masa SMP. Kala itu entah kenapa aku suka memperhatikan guru olahragaku yang begitu gagah dalam balutan celana training dan kaus ketat. Aku pikir awalnya hanya perasaan kagum saja, tapi lama kelamaan bayangan guru olahragaku itu hadir dalam wujud mimpi basah anak ABG. Dan ketika itulah aku menyadari kalau aku adalah seorang gay. Aku sama sekali tak menyukai perempuan. Biarpun temanku menunjukkan gambar wanita cantik berbalut bikini, aku sama sekali nggak tertarik. Aku bisanya cuman pura-pura suka saja sama perempuan, takut teman-temanku tahu kalau aku adalah gay. Tapi jangan tanya bagaimana reaksiku kala melihat cowok ganteng, cowok telanjang, atau cowok yang pamer badan. Agrhhhh, dalam sekejap kontol aku langsung nganceng. Hehehhe.
Biarpun udah 20 tahun, aku masih belum punya kekasih. Maksudnya pacar cowok ya! Aku juga agak takut masuk ke dunia gay, seperti mendatangi tempat-tempat dimana para gay kotaku bekumpul, berkenalan dengan sesama gay di dunia maya, dan menjalin pertemanan. Aku hanya merasa kalau hal itu beresiko besar. Aku takut ketahuan. Karena jomblo, aku juga jablay, dan desperate banget soal seks dengan sasama laki-laki. Aku mendambakan bagaimana rasanya bercinta dengan sesama lelaki. Bagaimana rasanya kontol saat masuk ke dalam mulut itu? Bagaimana rasanya lubang anus ditusuk oleh kontol tegang? Itu semua hanya menjadi mimpi buatku. Tapi semua penantian dan impian itu akan segera berakhir...
****
Sore itu sehabis pulang dari warnet, aku menemukan kedua orang tuaku sedang menyambut seorang tamu di ruang keluarga. Dari depan rumah aku bisa melihat sebuah motor Honda Tiger yang sepertinya aku kenal. Ibu langsung tersenyum begitu melihatku masuk ke ruang keluarga, dan sosok pria berbadan tegap yang kala itu posisinya membelakangiku, menoleh. Deg!
“Om Tyo!” Seruku dengan wajah sumringah.
Yang bernama Om Tyo lantas tersenyum. Aku pun langsung menelan ludah. Om Tyo, begitu aku memanggilnya. Iptu Ikhsan Prasetyo (33 Tahun) dengan wajah berbentuk persegi yang saat itu sedang ditumbuhi brewok ala goatte – kumis yang menyambung dengan janggut, dengan sambungan di bagian samping mulut. Janggutnya pun tidak panjang, dan tidak sampai area leher. Hanya menutupi dagu. Seperti Fred Durst vokalis Limp Bizkit.
Gila! Seksi banget! Seruku dalam hati. Kepribadianku sebagai seorang gay langsung bereaksi melihat pemandangan indah sosok Om Tyo yang selama ini menghiasi alam imajinasiku kala beronani. Yah, tahu lah... setiap gay pasti punya imajinasi dalam mengantarkan mereka menuju orgasme. Banyak yang memilih sosok-sosok selebriti yang ganteng dan seksi, tapi buat aku, Om Tyo adalah salah satu imajinasi terindah. Selain karena dia tipeku, dia juga sangat perfect dimataku sebagai seorang anggota Kepolisian.
“Sini duduk di sebelah, Om!” Seru Om Tyo sambil menepuk-nepuk sofa kosong di sebelah pantatnya yang saat itu sedang dibalut celana jins.
Gila! Ganteng banget... Aku kembali membatin dalam hati sambil dengan malu-malunya duduk di sebalah Om Tyo.
“Kamu dari mana?” Tanya Om Tyo.
“Dari warnet, Om! Biasa update facebook!”
Om Tyo langsung tersenyum mendengar celotehanku barusan, yang sontak membuat seluruh tubuhku meleleh karena terpesona melihat senyumannya. Agrhhhhh! Ingin sekali rasanya aku melumat bibir kecokelatan yang tebal itu.
“Kerjaannya cuman ke warnet terus, kapan cari kerjanya!” Celetuk Mbak Ratih – kakak perempuanku yang masih berumur 24 tahun.
Aku langsung memasang tampang ketus karena nggak suka topik pembicaraan yang Mbak Ratih lontarkan barusan. Masalah PEKERJAAN. Aku sudah 20 tahun, nggak kuliah, tapi juga nggak kerja. Aduh, gimana bisa dapet kerja kalau aku cuman lulusan SMA. Paling-paling juga jadi store crew minimarket, atau paling banter, jadi cleaning service, dan sales. Aku bukannya malas mencari kerja, tapi setiap kali mengirimkan lamaran, tak satupun perusahaan yang memanggilku untuk wawancara. Aku jadi putus asa, dan lebih banyak menghabiskan waktu membantu Ibu berjualan di warung. Mungkin belum rejeki aku bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan tetap.
“Om Tyo tumben main-main kemari?” Tanyaku, yang ingin segera mengalihkan topik pembicaraan.
Sedikit info, neh. Om Tyo baru saja bercerai dari Istrinya tiga bulan yang lalu. Tante Niken, yang selama ini aku hormati itu telah mengecewakan Om kesayanganku. Juih! Tante Niken tega-teganya selingkuh dengan rekan kerjanya. Saat mendengar berita perceraian Om Tyo dan Tante Niken, jujur aku marah besar, dan sampai membuat status penuh makian kepada Tante Niken di facebook. Biar, deh! Biar semua orang tahu kalau dia wanita murahan yang tega mengotori janji suci pernikahannya di depan Tuhan.
Aku kasihan melihat Om Tyo. Sepertinya dia terpukul dengan perceraiannya. Meskipun selama lima tahun pernikahan mereka, Om Tyo dan Tante Niken juga belum dikarunai seorang anak. Om Tyo sangat mencintai Tante Niken, dan butuh waktu sekitar tiga bulan lebih, mungkin sampai sekarang, untuk menenangkan diri dan kembali move on.
“Om dipindah tugaskan ke kota ini.” Jelas Om Tyo. Selama ini Om Tyo tinggal di Makassar bersama Tante Niken.
Makasar dan Sukabumi, adalah dua kota yang jelas berbeda. Aku saja nggak bisa dapet pekerjaan kota ini. Emang enak sih kalau jadi pegawai, kerjaannya pasti dan gajihnya juga mulai terjamin dan ada tunjangannya. Sebetulnya, dulu, aku pengen sih merantau. Pengen hidup mandiri, tapi aku kok nggak bisa meninggalkan kampung halamanku. Aku nggak bisa meninggalkan kedua orang tuaku, Mbak Ratih meskipun suka resek, dan aku juga punya teman-teman yang baik di sini. Apa yang melatar belakangi Om Tyo mau pindah tugas dan tinggal disini?
“Om’mu mau menginap di sini.” Jelas Bapak.
“Gimana, Den? Om boleh numpang nginep di rumahmu?”
Aku jadi kikuk. Kok, pakai acara minta izin segala, sih. “Ya, boleh dong, om!”
“Kalau begitu ajak Om Tyo ke kamar kamu, ya, Den!” Seru Bunda.
Hah?
Setelah mencerna perkataan Ibu barusan, aku baru menyadari sesuatu. Di rumah hanya ada tiga kamar. Kamar Bapak-Ibu, kamar Mbak Ratih, dan tentunya kamarku. Jadi untuk tiga minggu ke depan, Om Tyo akan tidur bersamaku, di kamarku. OH MY GOD! Tak kuasa dada ini menahan debar jantungku yang mulai berdegup kencang. Membayangkan akan tidur satu kamar dengan Om Tyo, berbagi ranjang dan selimut, mungkin adalah sebuah keajaiban. Ini namanya kejatuhan durian. Gay seperti aku akan sangat senang kalau mendapatkan kesempatan untuk berdekatan dengan sosok yang selama ini dikagumi, dipuja-puja, dan digunakan untuk obyek fantasi kala beronani.
“Aku bisa tidur di sofa, kok Mbak! Nggak enak sama Dendy, dia kan butuh privasi...” Celetuk Om Tyo kepada ibuku, yang adalah kakak perempuannya.
“Halah! Privasi apa?! Kamu tidur sama Dendy saja. Kalau tidur di sofa mana nyaman. Nanti punggungmu malah bermasalah dan menganggu tugasmu sebagai seorang Polisi.”
Aku mengangguk-angguk membenarkan perkataan Ibu. “Betul, Om! Lagian tempat tidur Dendy bisa muat dua orang. Nggak apa-apa! Om Tyo kan juga butuh privasi. Kita bagi privasinya bersama, orang sama-sama cowok juga.” Aku pun langsung tertawa sambil berjalan menuju kamarku yang nggak jauh dari ruang tengah.
Aku tersenyum. Kutuntut Om Tyo berbaring di tempatnya. Om Tyo menurut dan berbaring terlentang. Wajahnya memandangiku. Kelihatan tegang sekali. “Santai, Om! Lemaskan otot-ototnya. Jangan tegang. Yang boleh tegang cuman kontolnya.”
Dibantu dengan koleksi video bokep gay, aku mulai melancarkan aksiku. Aku sendiri minus pengalaman seks, dan malam ini akan menjadi yang pertama bagiku. Keperjakaanku akan direnggut oleh Om Tyo. Aku segera turun dari tempat tidur, berniat untuk membuka seluruh pakaianku. Tanpa malu-malu aku telanjang bulat di depan mata Om Tyo. Kontolku sudah berdiri tegak 15cm. Om Tyo tercekat, matanya melotot, tertuju pada benda pusakaku yang siap tempur.
Aku naik ke atas tempat tidur lagi. Kumainkan kontol di balik sarungnya. Kontol itu semakin menegang dan aku bisa menggengam batangnya sekarang. “Boleh aku singkirkan penghalang ini, Om?”
Om Tyo mendesah saat aku mencengkram batang kontolnya. Dia hanya bisa mengangguk. Tampak tak sabar menikmati service yang akan aku berikan padaya. Kubuka segera ikatan sarung di pinggang Om Tyo, dan dengan mudah sarung itu aku loloskan ke bawah. Kontol Om Tyo terlontar bebas, berdiri tegak 18 cm. Tampak kokoh, besar, berurat, dengan batang kontolnya kecokelatan, kepala kontolnya merah keungungan, serta area pubicnya yang ditumbuhi jembut yang cukup lebat. Buah zakarnya tengah tergantung bebas, berbulu jarang-jarang, dan tampak siap untuk dimanjakan dengan lidah.
Kukocok batang kontol Om Tyo. Mendapatkan rangsangan seperti itu mata Om Tyo terpejam dan dia mendesah lirih. Kujilat kepala kontolnya beberapa kali, dan seketika itu juga Om Tyo mendesahkan suara berat dari bibirnya. Lidahku beradaptasi dengan rasa kontol untuk pertama kalinya. Asin karena keringat dan menguarkan bau yang begitu khas memanjakan hidung. Kontol Om Tyo sudah menjadi milikku. Segera kukulum kepala kontolnya, tak lewat juga kumainkan lubang kencingnya dengan ujung lidahku.
“Ahhhhh! Ahhhhh!, Dendy!” Om Tyo mendesahkan namaku.
“Gimana, enak nggak?”
“Masukkan ke mulutmu, semuanya. Emut kontol, Om! Emut Den.. Basahin kontol om dengan lidahmu. Cepat…”
“Oke om!” Segera kujalankan permintaan Om Tyo. Kumasukkan kontolnya kedalam mulutku. Rasanya begitu aneh, dan aku hampir tak kuasa meraskan tenggorokanku ditusuk oleh kepala kontol Om Tyo. Ingin sekali aku muntah, tapi aku berusaha untuk menahannya. Kontol OM Tyo sangat panjang. Aku tak sanggup memasukkan kontol kekar itu ke mulutku hingga sampai ke pangkalnya. Aku bisa muntah, jadi kumasukkan kontol OM Tyo sampai setengah batang kontolnya.
“Agrrhhhh, Esssssseessshhhh...” Om Tyo mengerang dan mendesah-desah.
Setelah membiasakan kontol Om Tyo di dalam mulutku, akhirnya kumainkan lidahku, menyapu setiap saraf yang ada di batang kontolnya. Kukulum, dan kujilat-jilat, sampai kontol Om Tyo basah dengan air liurku.
“Kontol Om gede banget. Aku suka. ini Kontol pertama aku!”
“Ahhh, Den! Hisap. Hisap! Agrrhrhh ya, begitu. Agrrhhhh! Hisapanmu dahsyat! Argghhh.. mantap Den..”
Setelah puas memainkan kontol Om Tyo aku beralih memainkan buah zakarnya. Kumainkan dua buah benda yang menyimpan sperma itu dengan lidahku. Kuhisap benjolan sebelah kirinya, dan Om Tyo mencengkram kepalaku kuat-kuat. Kuhisap benjolan yang sebelah kiri, dan Om Tyo mulai menjambak-jambak rambutku. Sepertinya dia tak kuasa menahan kenikmatan yang dia rasakan.
Kuhirup aroma kelaki-lakiannya, kuendus-endus bagian pubicnya yang berbulu itu. Aromanya begitu memabukkan. Aku saja hampir bersin saat bulu jembut Om Tyo masuk ke hidungku. Sekarang aku naik ke atas, kumainkan pusar Om Tyo dengan lidahku.
“Ahhhh! Ahhhh, Oh, Oh, Eeeehhhhhssss...”
Meskipun tidak sixpack, tapi perut Om Tyo aku pikir cukup seksi. Kelihatan kencang dan berwarna coklat. Sebentar lagi adalah momen-momen yang paling aku tunggu. Aku naik satu tingkat ke atas, ke bagian dada Om Tyo yang bidang. Tanpa pandang bulu kuhajar dada sebelah kanannya dengan hisapan bibirku. Putingnya yang sudah tegang juga kulumat, kugigit, dan kucubit-cubit.
“Ahhhh!, Oh! Yeah! Yes! Itu area paling sensitifnya, Om, Den...” Om Tyo memberi penjelasan.
“Kalau begitu aku akan tetap di sini sampai Om mampus!” Sekarang kuhisap dada bagian kirinya.
“Ahhhhhhh! Den, den, hisap puting om!” Perintah Om Tyo.
Kuhisap puting cokelatnya itu, sementara yang sebelah kanan kuusap-usap dengan telapak tanganku yang sudah basah karena keringat dengan gerakan memutar.
“Ohhh, Ohhh, Ohhhh, ohhhh!” Kontol Om Tyo berkedut-kedut dan menyemburkan cairan bening. Om Tyo mengeluarkan percum banyak sekali. Itu merupakan pertanda kalau Om Tyo bisa saja mencapai orgasme sebentar lagi.
“Om mau keluar, ya?”
“Hisapanmu hebat, Den! Om nggak tahan pengen muncrat...”
“Tunggu dulu, belum ke acara puncaknya.”
“Kamu hebat, Den! Lebih hebat dari Tantemu. Om yakin bisa tidur nyenyak malam ini.”
“Kalau begitu, Om mau ber 69 sama aku?”
Om Tyo tentu tahu apa gaya 69 itu. Yap, gaya yang ditujukan untuk saling mengoral alat kelamin. Om Tyo tampak ragu, tapi segera aku yakinkan kalau berhubungan intim itu harus ada timbal-balik. Kalau Om Tyo merasa puas, aku juga harus dipuaskan. Aku juga ingin merasakan kontolku diemut-emut oleh bibir seksi Om Tyo.
Segera kuarahkan kontolku ke mulut Om Tyo. Om Tyo mendorong wajahnya menjauh, menolaknya, tapi kontolku yang panjang itu menghujam matanya. Digenggamnya kontolku, dan aku mendesah lirih karena sentuhan hangat dan mantap tangan Om Tyo.
“Hisap, Om! Kayak gini, nih...” Aku memberikan contoh. Kuhisap kontol Om Tyo. Om Tyo memejamkan matanya menikmati hisapanku. Sekarang dilihatnya kontolku yang ada di genggamannya. Om Tyo tampak ragu-ragu. Kudorong pinggulku ke wajahnya, yang hasilnya membuat kontolku menusuk pipinya.
Om Tyo lantas membuka mulutnya dan memasukkan kepala kontolku ke dalam mulutnya. Aku merasakan sensai basah, rasa geli, dan panas yang menusuk saat kepala kontolku dihisap oleh Om Tyo. Aku mendesah, kepalaku mendongah ke atas. Aku seperti di lempar ke langit ke tujuh. Dimainkannya kepala kontolku.
“Sekarang masukkan semunya, Om! Hisap.” Pintaku.
Om Tyo mendorong kontolku masuk ke dalam mulutnya. Saat kepala kontolku menyentuh langit-langit mulutnya Om Tyo tersedak, dan langsung mengeluarkan kontolku dari mulutnya, dan Om Tyo terbatuk-batuk. Aku tertawa melihatnya.
“Om nggak tahan baunya, Den. Om kocok-kocok saja, ya kontol kamu?”
Aku mendesah kecewa, tapi akhirnya aku menyetujuinya dari pada aku tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya Om Tyo mengocok-ngocok kontolku, dan aku menghisap kembali kontolnya berulang kali. Suara desahan kami saling bersahutan menghiasi malam. Tak terasa kami sudah melakukan foreplay selama dua jam. Sebentar lagi pasti subuh. Ibu biasa bangun saat subuh. Bisa gawat kalau suara gairah kami terdengar.
“Entotin lubang anusku, Om!” Pintaku dengan semangat. Semua datang secara naluriah. Aku awalnya tak tahu akan menjadi gay bot atau top. Tapi karena kondisi pasaganku malam ini, aku memilih untuk menjadi bot.
Aku segera mengambil posisi menungging. Gaya doggy style. Om Tyo memasang kontolnya di depan lubang anusku. “Ini dibasahin dulu, ya, Den? Kayak di video kamu itu, kan?”
Aku mengangguk mengiyakan. Om Tyo meludahi tangannya, dan segera dibasahinya lubang anusku sampai licin. Tak lupa dibasahi juga kepala kontolnya untuk memperlancar proses penusukan anus untuk pertama kalinya.
Lubang anusku serasa dipaksa untuk melebar. Kepala kontol Om Tyo mendesak masuk. Berlahan tapi pasti lubang anusku yang sempit itu mulai meregang.
“AAAAAAAHHHHUUUUUHHHH! Sakit!” Aku menjerit tertahan. Om Tyo menghentikan gerakannya.
“Belum masuk, nih Den. Baru ujungnya saja...”
Aku menarik napas untuk mengumpulkan tenaga. Aku menahan napas dan meminta Om Tyo untuk memasukkan kontolnya. Om Tyo mendorong kontolnya, kepala kontolnya mendesak masuk, dan sekarang sudah sebagian kepala kontolnya terbenam di dalam anusku. Rasa sakitnya bukan main. Kulitku rasanya seperti teriris, perih sekali. Rasanya hampir sama dengan sembelit. Aku menggigit bantal untuk menahan rasa sakit yang aku rasakan.
Pluk! Kepala kontol Om Tyo masuk. Keringat mengucur dari kening Om Tyo membasahi pantatku yang montok. Memasukkan kontol ke dalam anus perawan memang membutuhkan tenaga yang ekstra. Om tyo melumasi batang kontolnya dengan air liur, dan kemudian di dorongnya kontolnya itu untuk masuk lebih dalam. Jleeeeeeep! Aku menahan napas saat batang kontol Om Tyo menghujam ke dalam anusku. Blessss! Sekarang batang kontol Om Tyo telah terbenam di dalam anusku. Otot-otot yang tadi dipaksa meregang sekarang kembali ke posisi semula, dan mengakibatkan kontol Om Tyo serasa dijepit oleh daging yang hangat.
“AGRHHHH! Sempit, Den. Hangat.”
“Genjot, Om. Tapi pelan-pelan saja.”
Om Tyo menggerakan pinggulnya. Gerakan menyodok itu terjadi berulang kali sampai kedua badan kami basah oleh keringat. Bunyi pantat dan kontol yang beradu memanaskan suasana. Om Tyo mendesah keenakan, sedangkan aku mendesah antara campuran rasa sakit dan rasa nikmat. Anusku berkedut-kedut, pantatku digelitiki oleh jembut Om Tyo. Buah zakar kami saling adu pukul, rasanya begitu nikmat.
“Ahhh, Ahhh, Ahhhh!”
“Ohhhh, Ehhhh, Auwww, Ahhh!”
“Den, Om mau keluar!”
Secepat ini? Wow, ternyata Om Tyo cepat juga mencapai puncaknya. Maklum, mungkin ini pengalaman pertamanya merasakan anus. Ingin sekali aku merasakan sperma Om Tyo. Aku belum tahu bagaimana rasanya. Aku menjilat bibirku yang kering dengan lidah.
“Keluarin di mulut Dendy, Om!”
“Kamu yakin?” Tanya Om Tyo masih sambil menggenjot pantatku.
“Yakin!”
Om Tyo melepaskan kontolnya dari anusku. Aku segera berlutut di depan kontol Om Tyo. Om Tyo berdiri di atas kasur, tangannya mengenggam kontolnya, dan langsung mengocoknya cepatnya. Clok, clok, clok, clok! Bunyi kontol Om Tyo yan dikocok-kocok.
“Om, mau keluar, Den! Ahhhhh, Ahhhh...Ohhh, sebentar lagi...”
Aku membuka mulutku, kujulurkan lidahku, ujungnya tepat berada di bawah lubang kencing OM Tyo. “Yeah, semprot mulut Dendy, Om!”
“Ohhhh, sudah di ujung, Den! AHHHHHHHHHHHHHHHHGRHHHHHHHHH!” Om Tyo menggerang dan dari ujung lubang kencingnya menyembur cairan putih kental. Sangat banyak, dan langsung turun membanjiri lidahku.
Rasanya aneh. Asin, dan berbau amis. Aku nggak bisa menelannya karena jijik, jadi aku memuntahkannya. Sperma Om Tyo melubar keluar dari bibirku. Mulutku seperti belepotan susu kental manis. Om Tyo masih mengocok kontolnya, dan beberapa semburan sperma susulan terjadi dan menghujam wajahku. Aku menggerang menerimanya.
“Gimana, Om ML sama aku enak nggak?”
Om Tyo langsung rubuh ke atas tempat tidur. Kontolnya mulai kembali ke bentuk normal. Keringat membanjiri tubuh Om Tyo. Tanpa ragu aku naik ke atas perut Om Tyo.
“Kocokin kontol aku, Om! Aku juga pengen muncrat...”
Om Tyo tersenyum dan membasahi telapak tangannya dengan air liurnya sendiri. Kemudian dikocoknya kontolku yang berada tepat di atas perutnya itu. Kepala kontolku mengarah ke dadanya siap menyemburkan sperma yang sudah lama tidak di keluarkan.
“Ahhh, ahhh, ahhh, ahhhh! Kocokanmu enak sekali, Om!”
“Oh, Om Tyo! Agrrhhhh!”
“Om! Ahhhh Om Tyo!”
Aku meracau bukan main. Om Tyo memandangi wajah bergairahku dengan tajam. Matanya begitu menunjukkan kekaguman saat melihatku menuju punjak sambil mendesahkan namanya.
“Om Tyo... ahhh, ahhh, Om Tyo! Sudah lama aku menginginkan ini, Om!”
“Kamu naksir Om, Den?”
“Iya, Om! Ahhh, Ohhh, YES! Aku sudah lama naksir Om Tyo!”
“Oh, ya?”
“He’eh... Ahhhh, ahhhh, kocokannya jangan berhenti, Om!”
Kocokan tangan Om Tyo di kontolku semakin cepat. Bunyinya bukan main memeriahkan suasana dan makin menambah gairahku. Aku sudah berada di ambang batas antara realita dan awang-awang. Begitu dahsyat, begitu nikmat, dan mendamba.
“Om, aku keluar! Ahhhhhhhhhgrhhhhhh!” Kontolku melontarkan spermanya sebanyak dua kali semburan. Semburan pertama muncrat jauh sampai mengenai pipi Om Tyo, dan yang kedua hanya membasahi dada Om Tyo.
Om Tyo tiba-tiba menduil sperma di pipi dan dadanya, kemudian dihujamkannya sperma yang membasahi jarinya itu ke mulutku. Aku menghisap jemari Om Tyo dengan buas. Aku merasakan spermaku sendiri.
“Oh, yeahhh... hisap!” Om Tyo mendesah saat bibirku mengulum jari-jarinya.
Setelah jemari Om Tyo bersih, aku segera merebahkan diri di samping Om Tyo. Tanpa ragu aku merebahkan kepalaku di dadanya, kakiku melingkar di atas pahanya, menguncinya dalam dekapan. Kehangatan tubuh kami, bau keringat kami, dan bau sperma kami melebur menjadi satu menguarkan aroma yang sedikit menyengat di udara.
“Makasih, ya, Den. Om puas malam ini...”
“Sama-sama, Om. Dendy juga puas.” Dengan niat menggoda kukecup bibirnya. Om Tyo tampak terkejut. Bibirnya kasar. Mata kami saling memandang, entah apa yang kami lihat dari sorotan mata masing-masing, karena tiba-tiba Om Tyo melumat bibirku dengan bibirnya. Jenggot Om Tyo menggores daguku. Kami berciuman, lidah kami bermain, dan rasanya begitu membangkitkan gairah.
Kami saling mendesah. Om Tyo jago sekali berciuman. Dilepaskannya bibirnya dari bibirku. Aku menggerutu protes. Kuhisap bibir bawahnya dan Om Tyo mengerang. Kami menarik napas untuk mengembalikan tenaga. Ciuman kami benar-benar panas.
“Karena kamu belum punya pacar. Asumsi Om kamu belum ada pasangan gaynya. Bagaimana kalau kamu menjadi budak seksnya, Om Tyo. Om Tyo ketagihan. Kamu mau kan?”
Wajahku langsung berseri-seri. Aku pun langsung mengangguk. Om Tyo juga tak kalah senangnya. Dilumatnya bibirku lagi. Kami berciuman tak lama kemudian, dan lagi-lagi Om Tyo melepaskan bibirnya. Aku memprotes, tapi Om Tyo malah mencubit pipiku.
“Keponakan kesayangan, Om!”
“Om... Oh, Om Tyo...” Aku mendesahkan namanya seperti pemuja berhala.
“Om paling suka kalau kamu mendesahkan nama, Om. Om langsung turn on!”
“Kalau begitu siap ronde ke dua, Om?”
Om Tyo tertawa sambil mengusap-usap rambutku penuh kasih sayang. “Kalau kita berdua seberisik tadi nanti ketahuan. Nanti siang kamu ikut, Om, ya?”
“Kemana?”
“Kita liburan. Ke kebun teh. Di sana ada penginapan. Kita bisa melakukan ini berkali-kali di sana. Bagaimana, kamu kamu?”
“Ahhhh, tak sabar aku menunggunya, Om!”
Om Tyo mengusap jejak air liurnya di sekitaran bibirku, tapi kemudian dilumatnya bibirku lagi. Aku mengerang dan membalas ciumannya. Lidah kami beradu seperti pedang. Kontol Om Tyo kembali tegang. Aku mencengkramnya dan mulai mengocoknya. Om Tyo mendesah dan melepaskan ciumannya.
Tanpa aku duga Om Tyo langsung mendekap erat tubuhku dan membuka kedua pahaku lebar-lebar. Tampaknya dia menginginkan ronde kedua terjadi malam ini…
”Arggghhhhhhh… Ommmmm… Awwww…..!!!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Reno, cintaku

hai aku karel anak smp kls 3 kebetulan sekolahan aku dibawah naungan yayasan SMA jadi sekolahku satu atap dengan sma, aku tuh belum kenal d...